Fellow Farmers

Oh my Fellow Farmers,

Are you still standing still, looking up for the blue sky?

From dawn to dusk — down to the ground;

Climate change and catastrophe (la nina, lightnings, volcano eruptions are just to name),

Negligence,

Capitalistic minus ethic,

… and a ton of turbulence behind and beyond…

My fellows, please show us how to be wise and shake off weariness;

and teach us to relentlessly put good deeds and dodge dreariness.

Inspired by farmers always loss the biggest — Bromo eruption, flood, victim of lightning, negligence & less guarding for farmers today in my country (e.g. such as WTO), a book which inform people how ones could make the higher profitability from a land than the other usages e.g. for farming is less “productive”.

Menjadi Agraris

Foto ini diabadikan di Trawas-Mojokerto, yang terletak di kaki pegunungan Penanggungan, kira-kira 1 jam perjalanan lewat tol — bila sekitar Lapindo tidak macet — ke arah tenggara dari kota Surabaya.

Foto ini diambil sekitar pertengahan September 2008. Kala itu di negeri ini hasil panen benih padi Super Toy cukup banyak yang tak sesuai prediksi, cita-cita awal investasi yang tidak terwujud.

Menjadi Agraris, tidak gampang, salah satu yang tersulit, di tengah-tengah persaingan rimba dunia tanpa penanganan & dukungan yang selayaknya didapatkan. Rimba yang hanya kenal siapa yang kuat & cepat dialah yang menang.

Para petani, petambak, para pande, artisan, dan juga para nelayan, para pelaut adalah esensi negeri. Merekalah yang merangkai sistem agraris, yang melandasi sejarah awal di nusantara ini. Di manakah tempat mereka sekarang di bumi nusantara?

Menjadi agraris itu kaya….

Kaya kesabaran…
kerja seksama dalam penantian panjang
ada saat, ada musim, ada angin
mengolah tanah, menabur, menggarap, menuai

Kaya rasa…
indera mengamati, mencium, meraba, menjejak, mendengar
untuk cermat melakoni petunjuk-penanda alam yg bijak
demi karya agung
ia yang pertama melihat keajaiban alam
tumbuhnya bulir…
tawa syukurnya merekah

Di setiap bulir padi yang tumbuh,
ada ribuan bulir keringat & tetes air mata para petani
panas, hujan, angin, hama, tak kenal lelah tak menyerah
demi bulir-bulir padi
yang kita makan