Fellow Farmers

Oh my Fellow Farmers,

Are you still standing still, looking up for the blue sky?

From dawn to dusk — down to the ground;

Climate change and catastrophe (la nina, lightnings, volcano eruptions are just to name),

Negligence,

Capitalistic minus ethic,

… and a ton of turbulence behind and beyond…

My fellows, please show us how to be wise and shake off weariness;

and teach us to relentlessly put good deeds and dodge dreariness.

Inspired by farmers always loss the biggest — Bromo eruption, flood, victim of lightning, negligence & less guarding for farmers today in my country (e.g. such as WTO), a book which inform people how ones could make the higher profitability from a land than the other usages e.g. for farming is less “productive”.

Bila Dignity Berarti

Indonesia,

Negara besar tanpa pemimpin besar,

BILA yang diurus cuma hal-hal elitis,

tanpa menggulirkan ekonomi regional secara sistematis,

sungguh tidak realis.

BILA dibekali otak dan akal budi namun tidak dipakai,

tanpa bikin policy dan regulasi yang benar-benar berarti,

yang ‘kan berujung duit seret tidak berputar di rakyat sendiri,

pun jadi negara yang cuma bergantung pada kondisi luar negeri,

minyak bumi,

dan rejeki nomplok sekali-kali.

Sandang-pangan-papan dan lapangan pekerjaan,

empat bidang basic yang berkaitan dan menentukan,

sungguh-sungguh butuh dipikirkan dan butuh pemuliaan.

BILA rewards yang mau dicari,

urusi dengan teliti hal-hal ini;

Semoga kabinet pemerintahan ~ seterusnya maupun kini,

dipenuhi true gentlemen with dignity.

Arah Langkah

Benarkah Indonesia ~ negara tanpa arah?

tak tahu ke mana harus melangkah,

tenaga rakyatnya terkerah bagai sapi perah,

seakan lari di tempat sampai rebah;

bila sudah mentok ujung-ujungnya cuma pasrah,

pada IMF, pada WTO, dll, total menyerah,

tanpa merasa bersalah, tanpa merasa gegabah,

tinggallah rakyat tertinggal nan berpeluh berkeluh-kesah;

benarkah?