Menjadi Agraris

Foto ini diabadikan di Trawas-Mojokerto, yang terletak di kaki pegunungan Penanggungan, kira-kira 1 jam perjalanan lewat tol — bila sekitar Lapindo tidak macet — ke arah tenggara dari kota Surabaya.

Foto ini diambil sekitar pertengahan September 2008. Kala itu di negeri ini hasil panen benih padi Super Toy cukup banyak yang tak sesuai prediksi, cita-cita awal investasi yang tidak terwujud.

Menjadi Agraris, tidak gampang, salah satu yang tersulit, di tengah-tengah persaingan rimba dunia tanpa penanganan & dukungan yang selayaknya didapatkan. Rimba yang hanya kenal siapa yang kuat & cepat dialah yang menang.

Para petani, petambak, para pande, artisan, dan juga para nelayan, para pelaut adalah esensi negeri. Merekalah yang merangkai sistem agraris, yang melandasi sejarah awal di nusantara ini. Di manakah tempat mereka sekarang di bumi nusantara?

Menjadi agraris itu kaya….

Kaya kesabaran…
kerja seksama dalam penantian panjang
ada saat, ada musim, ada angin
mengolah tanah, menabur, menggarap, menuai

Kaya rasa…
indera mengamati, mencium, meraba, menjejak, mendengar
untuk cermat melakoni petunjuk-penanda alam yg bijak
demi karya agung
ia yang pertama melihat keajaiban alam
tumbuhnya bulir…
tawa syukurnya merekah

Di setiap bulir padi yang tumbuh,
ada ribuan bulir keringat & tetes air mata para petani
panas, hujan, angin, hama, tak kenal lelah tak menyerah
demi bulir-bulir padi
yang kita makan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s